Sabtu, 13 Juli 2024

Mencerdaskan Otak

 Kalau mau otak makin encer, coba deh belajar filsafat. Kok bisa? Begini ceritanya.

Filsafat itu kayak gym buat otak kita. Dia melatih kita berpikir kritis, menganalisis masalah dari berbagai sudut pandang, dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita anggap pasti. Saat kita mulai mendalami filsafat, kita diajak untuk melihat dunia dengan kacamata yang baru.

Bayangkan aja, kita diajak memikirkan pertanyaan-pertanyaan kayak "Apa itu kebenaran?", "Bagaimana kita tahu kalau kita benar-benar ada?", atau "Apa tujuan hidup manusia?". Nah, pertanyaan-pertanyaan ini mungkin kedengarannya abstrak, tapi justru di sinilah letak kecerdasannya.

Ketika kita mulai menggali jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, otak kita dipaksa untuk bekerja ekstra keras. Kita harus mengaitkan berbagai konsep, mencari hubungan sebab-akibat yang tidak terlihat kasat mata, dan bahkan kadang harus membongkar keyakinan-keyakinan lama yang sudah kita pegang erat-erat.

Contohnya nih, saat kita belajar tentang epistemologi (cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan), kita diajak untuk mempertanyakan dasar-dasar pengetahuan kita. Dari mana kita tahu bahwa yang kita tahu itu benar? Bagaimana proses kita mendapatkan pengetahuan itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memaksa kita untuk berpikir lebih dalam dan kritis terhadap informasi yang kita terima sehari-hari.

Atau ambil contoh lain, etika. Cabang filsafat ini mengajak kita untuk memikirkan konsep baik dan buruk. Kelihatannya sederhana, tapi coba deh pikirkan lebih dalam. Apa yang membuat suatu tindakan itu baik atau buruk? Apakah ada standar moral yang universal? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak hanya melatih kita untuk berpikir lebih dalam, tapi juga membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijak dalam hidup sehari-hari.

Jadi, kalau mau jadi orang pinter, jangan cuma fokus sama pelajaran eksak. Coba deh selami dunia filsafat. Dijamin, cara pandang kita terhadap dunia bakal berubah. Kita bakal jadi lebih kritis, lebih bijak dalam mengambil keputusan, dan pastinya lebih asyik diajak ngobrol. Siapa tahu, suatu hari nanti kita bisa jadi filsuf modern yang pemikirannya dikenang sepanjang masa. Seru kan?


sumber :  https://qr.ae/ps0I9d 



Jumat, 20 Oktober 2023

 

Aksi Nyata Modul 1.4

MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

OLEH : SOPIAN PURBA, S.Pd.K (CGP ANGKATAN 9 HUMBANG HASUNDUTAN)



A.     Pengantar

Segala puji Syukur kepada Tuhan yang maha Esa, atas perkenanannya kita diberi kesahatan dan kesempatan dalam melakukan segala kegiatan. Pada kesempatan yang baik ini saya akan mencoba membuat sebuah Artikel yang berkaitan dengan modul 1.4 Budaya Positif, sebagai bagian dari penyelesaian tugas di Learning management System (LMS) pendidikan guru penggerak angkatan 9 Kabupaten Humbang Hasundutan, tepatnya di tempat tugas saya SMP Negeri 5 Pakkat.

B.      Hal-hal yang mendukung terwujudnya budaya Positif

Berikut ini saya gambarkan enam hal yang harus kita pahami mendukung terjadinya budaya positif.


 

1.      Perubahan paradigma Belajar Stimulus Respon

 


 

2.      Disiplin Positif


 

3.      Motivasi Perilaku Manusia

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia :


4.      Kebutuhan Dasar Manusia


 

 

 

 

 

 

 

 

5.      Lima Posisi Kontrol

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.      Keyakinan kelas

Dalam pembentukan keyakinan kelas,
1) Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
2) Keyakinan kelas berupa pernyataan-Pernyataan universal.
3) Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
4) Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
5) Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
6) Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan
keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
7) Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu. pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati adalah keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama warga kelas. Dan salah satu yang telah disepakati yaitu budaya malu, dengan kesepakatan “ Saya malu jika”



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                               

 

7.       Segitiga Restitusi



C.   Menerapkan Budaya positif di sekolah

Pada kesempatan ini saya akan mencoba menuliskan beberapa hal yang saya lakukan di sekolah dalam menerapkan budaya positif khususnya kepada siswa yang bermasalah.

1.      Menerapkan segitiga restitusi kepada siswa yang berkelahi


 

Adalah dua orang siswa kelas IX A namanya Felix dan Rivaldo pada hari ini jumat 20 Oktober 2023 mereka dilaporkan temannya karena melakukan perkelahian di kelas. Setelah saya Tanya-tanya tanpa menghakimi mereka jujur bahwa kesalahan ada pada mereka berdua yaitu satu orang merasa teman yang lain sangat menjengkelkan sehingga mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Maka teman yang lain mulai emosi dan mereka melakukan perkelahian. Saya menempatkan diri sebagai manejer dalam posisi kontrol. Pada akhirnya pembicaraan kami berakhir dengan baik, mereka menyadari bahwa mereka salah, mereka tahu kesepakatan kelas yang mereka langgar terutama mereka sadar bahwa yang mereka lakukan sama-sama merugika mereka sendiri. Mereka saling meminta maaf, berpelukan dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya. Mereka juga saya tantang untuk menyebutkan apa kebaikan teman(lawannya berkelahi) dan mereka mampu meyebutkannya artinya mereka sadar dan boleh berpikir positif kepada temannya.

2.      Menerapkan Posisi Kontrol sebagai manejer Terhadap siswa yang melanggar aturan


Namanya Stiven The Martin Manullang kelas VIII B kerap dianggap guru lain sebagai siswa yang bandal dan selalu dihukum. Tapi saya mencoba melakukan pendekatan menerapkan posisi kontrol sebagai Manejer. Hari ini dia melempar bola kepada teman perempuan hingga merasa kesakitan. Dia mengaku salah saya tidak menghakiminya, dia dengan sadar meminta maaf.

 

3.      Memahami siswa dengan kebutuhannya


Seorang Siswa kelas VII A namanya Alpryando Simamora, kerap membuat ulah di kelas, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, seolah-olah senang untuk diperhatikan dan tidak takut jika dihukum. Maka saya mencoba mendengar apa yang menjadi alasannya kerap membuat ulah, rupanya ulah yang dia buat bagi dia hanya candaan, namun akhirnya dia menyadari bahwa karena tingkahnya banyak temannya yang tidak menyukainya.

 

4.      Implikasi keyakinan kelas


Namanya Vedrian Pandiangan kelas VIIIa, tidak termasuk siswa yang nakal namun dia sering absen dan rambutnya sering tidak sesuai aturan. Saya mendiskusikan tentang keyakinan kelas tentang rambut yang tidak rapi. Kami sepakat bahwa rambut yang tidak rapi merugikan diri sendiri sebab dia akan tampak tidak rapi, lebih susah merawatnya dan terutama akan berdampak pada kesehatan. Maka kami sepakat bahwa kita akan lebih banyak untung dengan rambut rapi, selain itu masalah ramput selalu saya upayakan rambut saya tidak lebih dari 3 cm, maka saya selalu lebih dulu menjadi contoh.

 

5.      Menerapkan keyakinan kelas


Mereka adalah dua orang siswa kelas VIIIa. Keduanya kerap membuat gaduh, nyaris setiap hari ada saja temannya yang melapor tingkah mereka yang membuat temannya tidak nyaman. Kami berdiskusi santai, mereka tahu aturan dan mereka sadar akan sikap mereka. Agar mereka tidak malah menganggap bahwa kesalahan mereka ditoleransi penuh. Maka kami kembali memperjelas keyakinan kelas mereka.

6.      Mendiskusikan Ulang keyakinan kelas


 

Melihat seringnya terjadi pelanggaran terhadap keyakinan kelas saya mencoba membicarakan ulang tentang keyakinan kelas tersebut dengan beberapa orang yang keras bermasalah ternyata tidak ada yang salah dengan aturan itu dan keyakinan kelas itu melainkan mereka sadar merekalah yang sengaja melanggarnya, dan saya menyadari bahwa lima kebutuhan dasar manusia memang benar adanya.

 

 

 

 

 

D.    Menyebarkan pemahaman Budaya Positif


 

Menyebarkan Pemahaman budaya Positif saya lakukan di SMP Negeri 5 Pakkat kepada komunitas guru pada hari ini jumat 20 Oktober 2023 pukul 11.00 s.d 12.00 di Kantor Guru dan pegawai. Diskusi kami cukup hangat dan saling bertukar pendapat, mencapai sebuah kesimpulan untuk menerapkan budaya positif sebisa mungkin.

 

E.     Penutup

Demikianlah koneksi antar materi ini menjadi sebuah refleksi bagi saya untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Sekian dan terima Kasih.

 

Pakkat,  20 Oktober 2023

Mencerdaskan Otak

  Kalau mau otak makin encer, coba deh belajar filsafat. Kok bisa? Begini ceritanya. Filsafat itu kayak gym buat otak kita. Dia melatih kita...